Anak Krakatau Kembali “Bersuara”: Gunung yang Pernah Runtuh Kini Terus Bertumbuh


Sapaloka — Selat Sunda kembali menjadi perhatian setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Erupsi menerus terjadi pada 5 September 2026 dan disertai suara gemuruh serta dentuman yang dilaporkan terdengar dari sejumlah wilayah di sekitar Banten, Lampung, hingga Jawa Barat.

Namun, Anak Krakatau hari ini bukanlah gunung yang sama seperti sebelum Desember 2018.

Di balik kepulan abu, cahaya merah dari lontaran material, dan suara dentuman yang terdengar dari kejauhan, terdapat sebuah proses geologi yang menarik: Anak Krakatau sedang membangun kembali tubuhnya.

Bukan Sekadar Gunung yang Sedang Meletus

Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Aktivitas gunung ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

Setelah peristiwa tsunami 22 Desember 2018, aktivitas erupsi berskala rendah masih berlangsung sebagai bagian dari proses konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh gunung. Badan Geologi mencatat fase tersebut berlangsung hingga Desember 2023, sebelum aktivitas kembali menghasilkan erupsi pada Juli 2026. 

Sejak 2 Juli 2026, tingkat aktivitas Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.

Pada 5 September, aktivitasnya kembali meningkat. Badan Geologi melaporkan erupsi menerus mulai terjadi dan berlangsung selama beberapa jam, disertai suara gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Banten. 

Fenomena yang terlihat pada malam hari juga menarik perhatian.

Semburan merah menyala dari kawah terlihat secara terus-menerus dan oleh pengamat diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain, atau air mancur lava.

Sederhananya, material magma yang keluar dari dalam gunung terlontar ke udara dan menghasilkan cahaya merah ketika terlihat pada malam hari.


---

Kenapa Dentumannya Bisa Terdengar Jauh?

Salah satu hal yang membuat aktivitas Anak Krakatau kali ini menarik perhatian masyarakat bukan hanya visual erupsinya, tetapi juga suara dentuman.

Laporan masyarakat mengenai dentuman dan getaran muncul dari sejumlah wilayah di Banten, Lampung, hingga Jawa Barat.

Badan Geologi menyebut suara dentuman dan getaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada waktu yang sama. 

Pada Minggu, 6 September 2026 dini hari, aktivitas erupsi juga masih tercatat. Salah satu erupsi pada pukul 03.53 WIB terekam selama sekitar 30 detik dengan amplitudo maksimum 46 mm. 

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat aktivitas gunung, suara seperti ini tentu dapat menimbulkan pertanyaan:

Seberapa besar sebenarnya erupsi Anak Krakatau saat ini?

Jawabannya tidak bisa hanya ditentukan dari seberapa keras suara dentuman terdengar.

Suara yang terdengar jauh tidak otomatis berarti tubuh gunung sedang mengalami kondisi yang sama seperti peristiwa besar di masa lalu.

Untuk mengetahui tingkat bahayanya, para ahli melihat berbagai parameter, mulai dari kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung, aktivitas visual, hingga kondisi morfologi gunung.


---

Anak Krakatau dan Bayang-Bayang 2018

Nama Anak Krakatau tentu tidak bisa dipisahkan dari peristiwa 22 Desember 2018.

Pada saat itu, sebagian tubuh Anak Krakatau mengalami longsoran ke laut dan memicu tsunami yang kemudian menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung.

Peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa dan meninggalkan ingatan yang sangat kuat bagi masyarakat di sepanjang Selat Sunda.

Karena itu, setiap kali aktivitas Anak Krakatau meningkat, wajar apabila masyarakat kembali mengingat tsunami 2018.

Tetapi ada satu hal penting yang perlu dibedakan.

Anak Krakatau yang sekarang tidak memiliki kondisi morfologi yang sama dengan sebelum keruntuhan 2018.

Badan Geologi menyatakan bahwa tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa tersebut masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat ini tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perubahan aktivitas dan morfologi gunung tetap dipantau secara intensif. 

Artinya, masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa setiap erupsi Anak Krakatau akan diikuti tsunami.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan.


---

Jadi, Apakah Saat Ini Ada Ancaman Tsunami?

Pertanyaan ini kemungkinan menjadi salah satu yang paling banyak muncul di masyarakat.

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi yang tersedia saat ini, tidak ada indikasi bahwa kondisi tubuh Anak Krakatau yang sekarang dapat mengalami keruntuhan dalam skala yang memicu tsunami. 

Namun bukan berarti Anak Krakatau aman untuk didekati.

Bahaya utama yang sedang diwaspadai saat ini justru berasal dari aktivitas erupsi itu sendiri.

Badan Geologi menyebut potensi bahaya saat ini antara lain aliran lava dan lontaran batu pijar, serta kemungkinan hujan abu lebat. 

Karena itu, masyarakat, wisatawan, nelayan maupun pengunjung tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau. 


---

Abu Vulkanik: Ketika Aktivitas Gunung Mulai Dirasakan Masyarakat

Erupsi gunung api tidak hanya menjadi fenomena yang terlihat dari kejauhan.

Abu vulkanik dapat terbawa angin dan mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.

Pada aktivitas Anak Krakatau kali ini, laporan sebaran abu muncul di sejumlah wilayah Banten dan Lampung. Masyarakat di wilayah yang terdampak diimbau meningkatkan kewaspadaan, termasuk menggunakan masker ketika berada di luar ruangan. 

Abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan mengiritasi mata.

Karena itu, apabila abu mulai turun di suatu wilayah, penggunaan masker dan perlindungan mata dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan.

Pengendara juga perlu berhati-hati karena abu yang cukup tebal dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin.


---

Anak Krakatau Sedang Membangun Dirinya Kembali

Ada sisi lain yang jarang dibicarakan ketika berita tentang Anak Krakatau muncul.

Gunung ini sebenarnya sedang tumbuh.

Peristiwa 2018 mengubah bentuk tubuh Anak Krakatau secara drastis. Setelah sebagian tubuhnya runtuh, aktivitas magma kemudian kembali membentuk material baru.

Erupsi-erupsi kecil dan aktivitas vulkanik setelahnya menjadi bagian dari proses konstruksi kembali tubuh gunung.

Badan Geologi mencatat bahwa setelah 2018 terjadi seri erupsi berskala rendah yang merupakan bagian dari fase pertumbuhan kembali Anak Krakatau. 

Dengan kata lain, Anak Krakatau bukan hanya sebuah gunung yang “meletus”.

Ia adalah sebuah sistem vulkanik yang terus berubah.

Hari ini bentuknya bisa berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Beberapa tahun mendatang pun bentuknya dapat kembali berubah.


---

Dari Krakatau 1883 hingga Anak Krakatau Hari Ini

Untuk memahami mengapa Anak Krakatau begitu penting, kita harus mundur lebih jauh.

Jauh sebelum Anak Krakatau menjadi gunung yang dikenal sekarang, kawasan tersebut merupakan bagian dari sistem vulkanik Krakatau.

Pada 1883 terjadi salah satu letusan paling terkenal dalam sejarah modern.

Letusan besar tersebut menyebabkan kehancuran luas di sekitar Selat Sunda dan menghasilkan tsunami.

Setelah rangkaian proses geologi tersebut, aktivitas vulkanik kemudian melahirkan gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Gunung tersebut terus tumbuh dari dasar laut dan kemudian menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Sehingga jika dilihat dari perspektif waktu geologi, Anak Krakatau sebenarnya masih sangat muda.

Ia masih berada dalam proses pembentukan.

Dan mungkin inilah sisi paling menarik dari Anak Krakatau:

kita sedang menyaksikan sebuah gunung yang belum selesai membentuk dirinya sendiri.


---

Jangan Menilai Erupsi Hanya dari Video di Media Sosial

Aktivitas Anak Krakatau juga mengingatkan kita pada persoalan lain: informasi yang beredar di media sosial.

Video erupsi dengan visual dramatis sangat mudah menyebar.

Masalahnya, tidak semua video yang diberi keterangan “erupsi Anak Krakatau hari ini” benar-benar merupakan rekaman terbaru.

Badan Geologi bahkan pernah mengonfirmasi adanya video yang diklaim sebagai erupsi Anak Krakatau pada Juli 2026, tetapi setelah diverifikasi video tersebut bukan rekaman aktivitas Anak Krakatau saat itu. 

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai video hanya karena terlihat dramatis.

Periksa:

kapan video direkam;

dari mana video berasal;

apakah lokasinya benar;

apakah ada keterangan dari PVMBG atau Badan Geologi;

dan apakah media terpercaya juga melaporkan kejadian yang sama.


Dalam situasi bencana, informasi yang salah bisa sama berbahayanya dengan bencana itu sendiri karena dapat menimbulkan kepanikan.


---

Yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Bagi masyarakat yang berada di wilayah Banten dan Lampung, tidak perlu panik.

Tetapi tetap waspada.

Beberapa langkah sederhana yang perlu diperhatikan:

Pertama, jangan memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.

Kedua, jangan mendekati gunung hanya untuk mendapatkan foto atau video erupsi.

Ketiga, apabila terjadi hujan abu, gunakan masker dan lindungi mata.

Keempat, berhati-hati ketika berkendara apabila abu vulkanik menyebabkan jarak pandang berkurang.

Kelima, ikuti informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BNPB, BPBD dan pemerintah daerah.

Dan yang tidak kalah penting:

Jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.


---

Anak Krakatau Hari Ini: Bukan untuk Ditakuti, tetapi Dipahami

Anak Krakatau memang memiliki sejarah yang membuat masyarakat selalu waspada.

Nama Krakatau mengingatkan kita pada 1883.

Peristiwa 2018 juga masih begitu dekat dalam ingatan.

Namun aktivitas Anak Krakatau pada September 2026 perlu dilihat berdasarkan kondisi gunung saat ini, bukan hanya berdasarkan trauma masa lalu.

Untuk saat ini, Badan Geologi masih menetapkan Anak Krakatau pada Level III atau Siaga dan terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas serta perubahan morfologinya. 

Erupsi, lava fountain, dentuman dan abu vulkanik menunjukkan bahwa sistem vulkaniknya sedang aktif.

Tetapi berdasarkan evaluasi yang tersedia saat ini, tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-2018 masih relatif kecil sehingga tidak dinilai berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami. 

Yang perlu dilakukan masyarakat bukan panik.

Yang perlu dilakukan adalah memahami informasi, mengikuti rekomendasi, dan tetap waspada.

Karena Anak Krakatau bukan sekadar cerita tentang sebuah gunung yang pernah meletus.

Ia adalah bagian dari proses panjang bumi yang masih berlangsung sampai hari ini.

Dan mungkin, beberapa puluh atau ratus tahun dari sekarang, manusia akan kembali melihat bentuk Anak Krakatau yang sama sekali berbeda dari yang kita kenal hari ini.

Gunung itu masih tumbuh.

Dan kita sedang menyaksikannya.


---

Sumber informasi:

Badan Geologi Kementerian ESDM — laporan khusus erupsi menerus Gunung Anak Krakatau, 5 September 2026. 

BNPB — perkembangan erupsi dan imbauan masyarakat, 5 September 2026. 

Badan Geologi — status Level III (Siaga) dan rekomendasi radius 3 km.